Dari Hobi ke Bisnis Bernilai Tinggi: Aline Bird Farm Malang Kembangkan Budidaya Lovebird Berkualitas
Malang — Usaha budidaya burung lovebird kini menjadi salah satu sektor ekonomi kreatif yang terus berkembang di tengah masyarakat. Hal ini terlihat dari kiprah Aline Bird Farm Malang, sebuah usaha rumahan yang berlokasi di Alin House Singosari RT.4/RW.5, Kelurahan Losari, yang berhasil mengubah hobi menjadi bisnis bernilai tinggi.
Pemilik usaha yang akrab disapa Pak Pang ini mengungkapkan bahwa usaha tersebut berawal dari kegemarannya memelihara burung sejak anaknya masih kecil. Dengan memanfaatkan ruang sederhana berukuran 4x3 meter di rumah, ia mulai mencoba membudidayakan lovebird secara mandiri.
“Awalnya hanya hobi di rumah, tapi lama-lama melihat peluang, akhirnya dikembangkan menjadi usaha,” ujar Pak Pang.
Dalam proses budidayanya, Aline Bird Farm Malang mengedepankan kualitas indukan. Proses dimulai dari pemilihan dan pengawinan indukan unggul hingga menghasilkan anakan yang memiliki potensi kualitas tinggi. Setiap anakan yang lahir kemudian diberikan identitas (ID) unik sebagai bagian dari pencatatan.
Untuk memastikan kualitas dan keakuratan jenis kelamin burung, Aline Bird Farm Malang menerapkan metode uji DNA secara nasional. Hal ini dinilai lebih akurat dibandingkan identifikasi berdasarkan fisik semata.
“Kalau dilihat dari fisik, tingkat keakuratannya hanya sekitar 70 sampai 80 persen. Tapi kalau menggunakan tes DNA, bisa mencapai 90 sampai 100 persen dan mendapatkan sertifikat resmi,” jelasnya.
Dalam hal pemasaran, usaha ini memanfaatkan berbagai platform digital seperti grup komunitas WhatsApp dan Facebook. Selain itu, keikutsertaan dalam kontes burung juga menjadi strategi untuk memperluas jaringan sekaligus meningkatkan reputasi kualitas burung yang dihasilkan. Penjualan pun tidak hanya terbatas di wilayah Malang, tetapi sudah menjangkau luar kota melalui sistem pengiriman.
Dari sisi harga, lovebird yang dibudidayakan memiliki nilai jual yang bervariasi, tergantung pada kualitas indukan dan hasil budidaya. Harga yang ditawarkan berkisar mulai dari Rp1 juta hingga Rp20 juta per pasang. Beberapa jenis yang saat ini banyak diminati pasar antara lain yellowface, aqua, dan sapphire.
Meski demikian, perjalanan usaha ini tidak selalu berjalan mulus. Pak Pang mengaku pernah mengalami kerugian hingga Rp 72 juta akibat kegagalan dalam proses budidaya. Faktor seperti kekurangan nutrisi dan tingkat stres pada burung menjadi penyebab utama rendahnya tingkat keberhasilan penetasan.
“Kendala terbesar biasanya di proses penetasan. Kalau nutrisi kurang atau burung stres, anakan yang menetas bisa sangat sedikit,” ungkapnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Aline Bird Farm Malang tetap berkomitmen menjaga kualitas dan terus belajar dari setiap kendala yang ada. Usaha ini menjadi contoh nyata bahwa ketekunan dan inovasi dapat mengubah hobi menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.
Dengan semakin tingginya minat masyarakat terhadap burung hias, Aline Bird Farm Malang optimistis budidaya lovebird akan terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi perekonomian lokal, khususnya di wilayah Kelurahan Losari.
Dea Farawida Aula 