Gema Reog Ponorogo di Bumi Singosari: Potret Semangat Pelestarian Budaya di Desa Losari
Desa Losari menyimpan potensi budaya yang kaya, di mana kesenian Reog Ponorogo pernah menjadi salah satu sorotan yang menyatukan warga. Momen kearifan lokal seperti ini menjadi pengingat akan kuatnya identitas dan daya tarik desa di mata publik.
SINGOSARI, MALANG – Suara kendang yang bertalu-talu berpadu dengan lengkingan terompet khas Reog Ponorogo memiliki daya magis tersendiri. Di Desa Losari, Kecamatan Singosari, gema kesenian adiluhung ini pernah menjadi bukti nyata bagaimana tradisi dapat menghidupkan suasana desa. Kehadiran sosok Dadak Merak yang gagah di tengah pemukiman warga saat itu bukan sekadar hiburan semata, melainkan manifestasi dari semangat pelestarian budaya yang masih mengakar kuat di hati masyarakat.
Kala itu, perhelatan budaya menjadi ajang bagi warga Losari untuk menunjukkan kekompakan dan rasa syukur. Mulai dari generasi tua hingga anak-anak, semuanya tumpah ruah di jalanan desa, baik sebagai peserta maupun penonton yang antusias. Semangat "Guyub Rukun" sangat terasa dalam setiap persiapan, di mana warga bergotong royong memastikan setiap atribut seni tampil sempurna.

Foto Ilustrasi/AI
Meskipun saat ini Reog Ponorogo tidak tampil secara rutin, semangat untuk menjaga warisan budaya di Losari tidak pernah padam. Di sisi lain, geliat budaya ini kini mendapat dukungan baru melalui aspek teknologi. Sebagai bagian dari pengembangan Cyber Village Losari, ulasan dan informasi mengenai berbagai kegiatan budaya termasuk kenangan manis penampilan Reog kini mulai diintegrasikan ke dalam platform digital desa. Tujuannya jelas: agar warisan leluhur tidak hanya berhenti di memori warga, tetapi juga dapat dinikmati dan dipelajari oleh khalayak luas melalui akses informasi yang lebih mudah.
Ke depannya, sinergi antara tradisi kesenian dan inovasi digital diharapkan mampu membawa Desa Losari menjadi desa yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga tetap memegang teguh jati diri budayanya. Penampilan Reog di masa lalu menjadi pengingat bahwa di bawah naungan langit Singosari, budaya akan selalu menemukan cara untuk tetap hidup dan relevan dalam berbagai bentuk.
Era Fataliya 