Batik Gandring Singosari, Cerita Ketekunan Desa Menjaga Budaya dan Menata Masa Depan

UMKM Batik Gandring Singosari berdiri sejak 2008 dan konsisten melestarikan warisan budaya batik dengan mengangkat sejarah lokal Mpu Gandring. Berawal dari pengalaman membatik sejak 1993 dan belajar bersama perajin lansia pada 2007, usaha ini memasarkan produknya dari rumah serta aktif mengikuti pameran di berbagai daerah seperti Surabaya, Batam, Kalimantan, hingga Penajam pada 2018. Selain berjualan dengan kisaran harga Rp250 ribu hingga Rp1,2 juta dan melayani pesanan khusus, Batik Gandring juga aktif dalam kegiatan pelatihan dan edukasi membatik.

Batik Gandring Singosari, Cerita Ketekunan Desa Menjaga Budaya dan Menata Masa Depan

UMKM Batik Gandring Singosari menjadi salah satu pelaku usaha batik yang konsisten melestarikan warisan budaya Nusantara sejak berdiri pada tahun 2008. Nama “Gandring” sendiri diambil dari sosok legendaris Mpu Gandring yang lekat dengan sejarah Kerajaan Singosari, sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal daerah tersebut.

Sejak awal berdiri, pemasaran Batik Gandring dilakukan dari rumah produksi. Meski demikian, jangkauan pasarnya cukup luas karena rutin mengikuti berbagai pameran di sejumlah daerah seperti Surabaya, Batam, Kalimantan, hingga terakhir pada tahun 2018 di Penajam.

Menariknya, perjalanan membatik pemilik usaha sudah dimulai jauh sebelum UMKM ini berdiri. Pada tahun 1993, ia pernah mencoba membatik dalam kegiatan edukasi batik di Bumi Perkemahan Kemerdekaan tingkat dunia. Kemudian pada tahun 2007, kembali memperdalam keterampilan dengan belajar membatik bersama para lansia di sentra kerajinan Singosari.

Selain memproduksi dan menjual batik, Batik Gandring Singosari juga aktif dalam kegiatan pelatihan dan edukasi membatik. Tak jarang, mereka diundang untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat maupun komunitas yang ingin belajar membatik secara langsung.

Dalam hal pemasaran, produk Batik Gandring juga dititipkan di Dekranas Surabaya. Meski telah memiliki media sosial seperti Instagram dan TikTok dengan akun @batikgandring, aktivitas unggahannya masih belum rutin dilakukan.

Harga produk Batik Gandring Singosari berkisar antara Rp250.000 hingga Rp1.200.000, tergantung jenis, motif, dan tingkat kerumitan. Selain produk jadi, UMKM ini juga melayani permintaan kain batik sesuai pesanan (custom request

 UMKM Batik Gandring Singosari telah berdiri sejak tahun 2008 dan terus konsisten melestarikan seni batik khas daerah. Nama “Gandring” sendiri diambil dari Mpu Gandring, tokoh legendaris yang menjadi bagian dari sejarah Singosari.

Pemilik Batik Gandring menjelaskan alasan pemilihan nama tersebut.

“Kami mengambil nama Gandring dari Mpu Gandring karena ingin mengangkat sejarah Singosari. Harapannya, batik ini bisa menjadi identitas daerah,” ujar beliau.

Perjalanan membatik sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum usaha ini berdiri. Pada tahun 1993, beliau pernah mencoba membatik dalam kegiatan edukasi batik di Bumi Perkemahan Kemerdekaan tingkat dunia. Kemudian pada tahun 2007, kembali memperdalam keterampilan dengan belajar bersama para lansia di sentra kerajinan Singosari.

“Saya belajar dari para sesepuh pembatik. Dari situ saya semakin yakin untuk menekuni batik secara serius,” tuturnya.

Dalam hal pemasaran, Batik Gandring awalnya dipasarkan dari rumah produksi. Namun, usaha ini aktif mengikuti berbagai pameran di Surabaya, Batam, Kalimantan, hingga terakhir pada tahun 2018 di Penajam.

“Kami biasanya ikut pameran untuk memperkenalkan produk. Terakhir pameran tahun 2018 di Penajam,” jelasnya.

Produk Batik Gandring juga dititipkan di Dekranas Surabaya. Selain itu, promosi dilakukan melalui media sosial Instagram dan TikTok dengan akun @batikgandring, meskipun belum aktif secara rutin.

“Media sosial sudah ada, tapi memang belum rutin kami isi. Ke depan ingin lebih aktif lagi,” katanya.

Harga produk Batik Gandring berkisar antara Rp250 ribu hingga Rp1,2 juta, tergantung motif dan tingkat kerumitan. Mereka juga melayani permintaan kain batik sesuai pesanan. 

“Kalau ada yang request kain atau motif tertentu, kami juga bisa menyesuaikan,” tambahnya.

Tak hanya berjualan, Batik Gandring juga sering diundang untuk memberikan pelatihan dan edukasi membatik kepada masyarakat.

“Kami ingin batik ini terus hidup. Jadi bukan hanya jualan, tapi juga berbagi ilmu,” pungkasnya.