Ketahanan Hijau Losari: Petani Tetap Panen Melimpah Meski Dibayangi Hama Tikus
Di tengah tantangan hama tikus yang kerap menyerang lahan pertanian di wilayah Losari, Singosari, para petani setempat membuktikan ketangguhan ekosistem mereka. Dengan total luas lahan mencapai 28 hektar, sektor pertanian di Losari tetap produktif dan konsisten menghasilkan padi hingga jagung. Pak Samsul, salah satu tokoh petani, mengungkapkan bahwa meski terdapat kendala hama, kearifan lokal dalam pengelolaan lahan membuat petani di Losari tidak pernah mengalami gagal panen.
SINGOSARI, MALANG – Kelurahan Losari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, terus menunjukkan potensinya sebagai salah satu lumbung pangan lokal yang tangguh. Meski para petani harus berhadapan dengan tantangan hama tikus yang kerap mengganggu lahan, sektor pertanian di wilayah ini terbukti tetap stabil dan jauh dari ancaman gagal panen.
Total luas lahan pertanian di wilayah Losari mencapai 28 hektar. Salah satu praktisi pertanian setempat, Pak Samsul, yang mengelola sekitar 4 hektar lahan padi, mengungkapkan bahwa produktivitas di Losari tergolong sangat baik. Dalam kurun waktu 13 bulan, petani mampu melakukan siklus tanam hingga tiga kali panen dengan pengaturan jeda yang tepat.
Mengenai kendala hama tikus yang sering dikhawatirkan, Pak Samsul menjelaskan bahwa hal tersebut memang menjadi dinamika di lapangan. Namun, hal unik yang terjadi di Losari adalah ekosistem yang masih cukup seimbang, sehingga petani tetap bisa memanen hasil meski tanpa penggunaan obat-obatan kimia yang berlebihan.
"Kendala hama tikus itu ada, kalau di padi mereka menyerang bagian bawah, kalau di jagung mereka memanjat. Tapi Alhamdulillah, di Losari walaupun ada kendala, tetap bisa sampai ke tahap panen. Hasilnya memang sedikit berkurang, tapi tidak pernah sampai gagal total," ujar Pak Samsul saat memberikan keterangan di area persawahan dekat jembatan Losari.

Proses pengambilan data dan wawancara dengan Pak Samsul di lokasi
Selain padi sebagai komoditas utama, lahan di Losari juga dimanfaatkan untuk diversifikasi tanaman seperti kacang-kacangan seluas 1.000 m², singkong (ketela), hingga jagung. Strategi pemilihan jenis tanaman juga menjadi kunci; misalnya pemilihan jagung manis yang memiliki masa panen lebih singkat yakni 70 hari dengan teknik pemupukan cair (kocoran) untuk hasil yang lebih optimal.
Ketahanan pangan di Losari didukung oleh sistem distribusi yang sehat. Petani di wilayah ini umumnya menjual hasil panen dalam bentuk padi langsung di lokasi (timbang di jalan) untuk menjaga kualitas dan kesegaran produk. Saat ini, harga jual padi mengikuti standar pemerintah di angka Rp6.500 per kilogram melalui Bulog, dengan fluktuasi harga sekitar Rp2.000 jika melalui tengkulak atau pengepul.
Keputusan petani untuk tidak melakukan penjualan secara daring (online) untuk produk pertanian mentah diambil demi keamanan konsumen. Hal ini untuk menghindari risiko pembusukan produk selama masa pengiriman, mengingat produk pertanian segar memiliki masa simpan yang terbatas.
Keberhasilan warga Losari dalam menjaga ritme panen di tengah gangguan hama ini menjadi bukti nyata pentingnya manajemen lingkungan yang baik. Dengan menjaga keseimbangan antara teknik bertani dan pelestarian ekosistem, keamanan pangan di tingkat kelurahan dapat terus terjaga dengan mandiri.
Era Fataliya 