Posyandu RW 4 Losari Rutin Digelar, Warga Dapat Layanan Kesehatan dan Edukasi
Kegiatan Posyandu RW 4 Kelurahan Losari rutin dilaksanakan setiap bulan untuk memantau kesehatan bayi, balita, ibu hamil, remaja, hingga lansia melalui berbagai pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan. Meski menghadapi kendala jarak wilayah dan partisipasi warga, kegiatan Posyandu tetap berjalan sebagai upaya menjaga kesehatan masyarakat.
Losari – Kegiatan Posyandu di RW 4 Kelurahan Losari terus dilaksanakan secara rutin setiap bulan sebagai bentuk upaya pelayanan kesehatan masyarakat. Posyandu menjadi salah satu sarana penting bagi warga untuk memantau kondisi kesehatan mulai dari bayi, balita, remaja, ibu hamil hingga lansia melalui berbagai pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh kader posyandu serta tenaga kesehatan.
Kegiatan Posyandu biasanya diawali dengan proses pendaftaran bagi warga yang hadir. Setelah itu, peserta akan mengikuti serangkaian pemeriksaan kesehatan yang disesuaikan dengan kelompok usia masing-masing. Pemeriksaan tersebut meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pengukuran lingkar kepala pada balita, serta pemeriksaan tekanan darah bagi lansia. Selain pemeriksaan fisik, warga juga mendapatkan penyuluhan kesehatan dari para kader posyandu mengenai pentingnya menjaga pola hidup sehat.
Kepala Bidan Posyandu Bu Asmainur, A.Md kes menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemantauan kesehatan masyarakat secara berkala agar kondisi kesehatan warga dapat diketahui sejak dini.
“Awalnya warga mendaftar, kemudian dilakukan pemeriksaan seperti timbang berat badan, tinggi badan, dan cek kesehatan untuk bayi, balita, ibu hamil hingga lansia. Setelah itu biasanya ada penyuluhan dari kader untuk menjaga kesehatan dan memberikan semangat kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatannya,” ujarnya.

Dalam setiap pelaksanaan kegiatan, jumlah peserta yang hadir cukup bervariasi. Untuk balita, biasanya terdapat sekitar 25 anak yang mengikuti kegiatan penimbangan dan pemeriksaan kesehatan. Sementara itu, lansia yang hadir berkisar antara 10 hingga 15 orang. Untuk kelompok remaja, tingkat partisipasinya masih tergolong rendah karena sebagian besar masih menjalani aktivitas sekolah. Sedangkan jumlah ibu hamil menyesuaikan kondisi yang ada di wilayah tersebut.
Selain pemeriksaan dasar, Posyandu juga memberikan layanan pemantauan kesehatan ibu hamil. Salah satu pemeriksaan yang dilakukan adalah pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) yang bertujuan untuk mengetahui kondisi gizi ibu hamil. Jika hasil pengukuran menunjukkan angka di bawah 23 sentimeter, maka kondisi tersebut dapat mengindikasikan adanya risiko kekurangan gizi.
“Ibu hamil juga diukur LILA-nya untuk mengetahui kondisi gizinya normal atau tidak. Kalau ukurannya di bawah 23 berarti berisiko kekurangan gizi. Ibu hamil harus memperhatikan asupan makanan yang bergizi agar kondisi kesehatannya tetap baik dan tidak berisiko saat melahirkan,” jelasnya.
Kondisi kekurangan gizi pada ibu hamil dapat berdampak pada kesehatan ibu maupun bayi yang dikandung. Oleh karena itu, kader posyandu selalu mendorong ibu hamil untuk melakukan konsultasi secara rutin, baik saat kegiatan Posyandu maupun melalui komunikasi langsung dengan bidan.
Selain itu, Posyandu juga memantau kondisi gizi balita melalui penimbangan berat badan setiap bulan. Jika ditemukan balita yang mengalami penurunan berat badan atau berat badan yang tidak mengalami kenaikan dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan, maka akan dilakukan tindak lanjut berupa konseling dengan kader gizi maupun tenaga kesehatan dari puskesmas.

“Kalau ada balita yang berat badannya tidak naik selama dua sampai tiga bulan, biasanya ada konseling dari kader gizi atau tenaga kesehatan untuk mencari tahu penyebabnya dan memberikan saran terkait pola makan atau perawatan anak,” tambahnya.
Dalam kegiatan Posyandu, warga juga dapat menyampaikan berbagai keluhan kesehatan yang dialami secara langsung kepada kader maupun tenaga kesehatan. Konseling ini dapat dilakukan secara perorangan maupun dalam kelompok. Untuk konseling kelompok, biasanya membahas materi kesehatan ibu dan anak dengan menggunakan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
Penyuluhan tersebut sering dipandu oleh tenaga kesehatan dari Puskesmas Ardimulyo, salah satunya Bu Agni, yang memberikan pemahaman kepada para ibu mengenai pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak serta kesehatan selama masa kehamilan.
Selain kegiatan penyuluhan kelompok, warga juga dapat melakukan konsultasi secara pribadi dengan bidan apabila memiliki keluhan kesehatan tertentu. Konsultasi ini bahkan dapat dilakukan di luar kegiatan Posyandu melalui komunikasi langsung dengan bidan melalui WhatsApp.
“Biasanya kalau ada keluhan kesehatan bisa konsultasi langsung dengan ibu bidan, bahkan kadang juga melalui WhatsApp supaya warga tetap bisa mendapatkan arahan terkait kesehatannya,” ungkapnya.
Untuk menginformasikan jadwal kegiatan Posyandu, kader biasanya menyampaikan undangan melalui grup WhatsApp warga. Namun demikian, kader juga menyadari bahwa tidak semua warga aktif memantau pesan di grup tersebut. Oleh karena itu, kader sering kali melakukan pemberitahuan secara langsung kepada warga, terutama bagi mereka yang membutuhkan pemantauan kesehatan.
“Biasanya undangan kami kirim lewat WhatsApp atau grup warga. Tapi kadang ada juga yang tidak membaca pesan tersebut. Kalau ada warga yang berisiko dan tidak hadir, kader biasanya mendatangi langsung ke rumahnya untuk memastikan kondisi kesehatannya,” tuturnya.
Meskipun kegiatan Posyandu berjalan secara rutin, tantangan tetap dihadapi dalam pelaksanaannya. Salah satu kendala yang cukup sering ditemui adalah luasnya wilayah serta jarak antar RT yang cukup jauh, sehingga tidak semua warga dapat dengan mudah menghadiri kegiatan Posyandu.
Selain faktor jarak, tingkat partisipasi masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri bagi para kader. Oleh karena itu, kader posyandu terus berupaya memberikan motivasi dan semangat kepada warga agar lebih peduli terhadap kesehatan diri dan keluarganya.

“Wilayahnya cukup luas dan jarak antar RT juga jauh, jadi kadang ada warga yang sulit hadir. Partisipasi masyarakat juga kadang masih kurang, sehingga kader harus terus memberikan semangat agar warga mau datang ke Posyandu,” jelasnya.
Meski demikian, kader Posyandu RW 4 tetap berkomitmen untuk menjalankan kegiatan secara rutin setiap bulan. Bahkan jika jadwal kegiatan bertepatan dengan hari libur atau tanggal merah, kegiatan biasanya dimajukan agar pelayanan kesehatan bagi masyarakat tetap dapat berjalan.
“Alhamdulillah Posyandu tetap berjalan setiap bulan dan tidak pernah libur. Kalau jadwalnya bertepatan dengan tanggal merah biasanya kami majukan supaya kegiatan tetap bisa terlaksana,” pungkasnya.
Melalui kegiatan Posyandu yang konsisten dan berkelanjutan, diharapkan masyarakat dapat lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini, sehingga kualitas kesehatan warga di Kelurahan Losari dapat terus meningkat dari waktu ke waktu.
Dita Febriani P. 