Posyandu Kartini 1 Losari Perkuat Layanan Kesehatan Siklus Hidup, Dorong Partisipasi Warga
Guetilang, Malang — Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebagai mandat negara dalam penyelenggaraan layanan kesehatan tingkat akar rumput terus menunjukkan perannya di tengah masyarakat. Kelurahan Losari, Kecamatan Singosari, sukses menggelar kegiatan Posyandu Kartini 1 untuk masyarakat RW 1 pada Rabu (4/3/2026), yang rutin dilaksanakan setiap minggu pertama hari Rabu tiap bulannya.
Kegiatan ini mencakup Posyandu balita, ibu hamil, serta lansia. Sebanyak 92 orang hadir dalam kegiatan tersebut, terdiri dari unsur pemerintah desa, 11 kader Posyandu, 8 tenaga kesehatan termasuk dua mahasiswa magang bidang kesehatan dari Universitas Ma Chuang, 38 balita, serta 35 lansia di lingkungan RW 1 Losari.
Bidan Desa Kelurahan Losari, Asmainur, A.Md. Keb dari Puskesmas Ardimulyo Singosari, menegaskan bahwa Posyandu memiliki fungsi vital dalam memantau kesehatan masyarakat secara berkala. “Tugas saya di sini adalah mengikuti tiap Posyandu untuk bisa imunisasi, memantau perkembangan tumbuh kembang anak balita bersama ibu kader. Balita di sini ditimbang, diukur setiap bulan agar mengetahui perkembangan naik atau turun. Ada juga ibu hamil untuk ukur tinggi badan, KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) sehat atau tidak sehat,” jelas Asmainur.
(Kader dan Nakes Mengecek Kesehatan Masyarakat Losari)
Menurutnya, fokus pelayanan kini tidak lagi tersegmentasi per kelompok usia seperti sebelumnya. Sejak diberlakukannya skema Integrasi Layanan Primer (ILP), pendekatan layanan kesehatan dilakukan berbasis siklus hidup manusia. “Kita fokus ke lansia, balita, ibu hamil, dan sekarang ke remaja karena mengikuti skema ILP yang berfokus pada transformasi pelayanan kesehatan berdasarkan siklus hidup manusia mulai dari ibu hamil, anak, dewasa, dan lansia. Kalau dulu sistemnya dibagi per kluster khusus, sekarang dijadikan satu skema,” ujarnya.
Namun demikian, tantangan terbesar yang dihadapi Posyandu Kartini 1 adalah tingkat kehadiran masyarakat, khususnya ibu balita. Dari target sekitar 70 balita, yang hadir rata-rata hanya 30–40 anak. “Permasalahan di sini masih banyak ibu balita yang sering tidak hadir ke Posyandu. Jadi sasaran misalnya 70 yang datang hanya 30–35 dan paling banyak 40. Banyak yang tidak hadir karena mengantar anak sekolah atau ada yang malas ke Posyandu,” ungkap Asmainur.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan partisipasi, salah satunya melalui sistem undangan formal dan pemberitahuan melalui grup WhatsApp. Selain itu, strategi pemberian vitamin A dan obat cacing secara langsung di lokasi juga diterapkan agar masyarakat terdorong hadir secara langsung. “Jika tidak hadir secara langsung, obat tersebut tidak diberikan dan tidak boleh dititipkan. Skema ini saya buat agar orang-orang mau hadir ke Posyandu secara langsung,” tegasnya.
Selain itu, Posyandu juga menyediakan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) gratis bagi balita sebagai bentuk dukungan terhadap pemenuhan gizi anak.
(Masyarakat Desa RW 1 yang Hadir dalam Posyandu)
Ketua Kader RW 1 Kelurahan Losari, Dewi Maghfiroh, menjelaskan bahwa pendirian Posyandu bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemantauan kesehatan sejak dini. “Pendirian Posyandu dari RW 1 bertujuan untuk memberikan edukasi kepada balita dan ibu balita untuk mengetahui status kesehatannya melalui timbang berat badan dan tinggi badan tiap bulan. Kedua, didirikan Posyandu lansia untuk mengetahui kesehatan lansia, misalnya cek tekanan darah, tes gula, kolesterol, dan mencegah diabetes atau hipertensi,” jelas Dewi.
Seiring implementasi ILP yang mulai diterapkan sejak 2025, Posyandu Kartini 1 juga mulai merancang pelayanan untuk remaja, terutama remaja putri yang rentan anemia. “Sekarang fokus mulai dari ibu hamil, balita, remaja, lansia. Remaja nanti fokusnya ke tekanan darah dan HB karena banyak remaja putri mengalami anemia. Nanti akan ada pemberian tablet tambah darah,” tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, kader juga melakukan kunjungan rumah bagi warga yang tidak dapat hadir, terutama lansia dengan keterbatasan mobilitas. “Tugas kita fokus pada yang tidak hadir di Posyandu karena mungkin tidak sempat atau lansia susah bergerak jadi mobilitasnya terhambat,” katanya.
Tingkat partisipasi masyarakat dinilai masih perlu ditingkatkan. Dari total 67 balita terdata, yang hadir sekitar 30–40 anak. Sementara kehadiran lansia juga belum mencapai 50 persen karena keterbatasan fisik.
Sebagai bentuk inovasi, kader juga menyediakan doorprize bagi warga yang hadir paling awal atau paling rutin selama enam bulan terakhir sebagai upaya meningkatkan motivasi kehadiran.
Meski demikian, kendala utama dalam pelayanan lansia adalah keterbatasan penyediaan obat. “Kendala di Posyandu adalah tidak menyediakan obat lansia dan harapannya bisa kerja sama dengan Puskesmas untuk penyediaan obat, terutama hipertensi dan diabetes. Alasan mereka tidak hadir karena merasa datang ke Posyandu tidak mendapat obat jadi kurang tertarik,” ungkap Dewi.
Dari sisi masyarakat, Widyati Narulita (52), warga RT 4 RW 4 Losari, menyambut baik keberadaan Posyandu lansia yang menurutnya dimulai sejak usia 40 tahun. “Posyandu lansia mulai usia 40,” ujarnya. Ia menilai Posyandu memberikan manfaat preventif karena warga dapat mengetahui kondisi kesehatan secara berkala. “Bisa mengetahui kondisi kita dan tingkat kesehatan seperti apa dan bisa upaya preventif,” katanya.
Terkait kualitas pelayanan, Widyati menilai secara umum sudah baik, meski masih ada aspek yang perlu ditingkatkan, terutama terkait pembiayaan pemeriksaan tertentu. “Alhamdulillah, baik menurut saya, tapi masih ada yang perlu ditingkatkan dalam hal obat. Setahu saya di kelurahan lain di Singosari itu gratis ceknya, tapi kalau di sini saya pernah cek kolesterol itu berbayar. Pernah gratis pengecekan gula darah untuk pertama kali,” tuturnya.
Ia berharap pelayanan ke depan semakin baik dan aspirasi masyarakat dapat diwujudkan. “Harapan lebih baik lagi untuk pelayanan dan lainnya serta aspirasi saya bisa terwujud,” ucapnya.
Keberadaan Posyandu Kartini 1 RW 1 Losari menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan berbasis masyarakat tetap menjadi pondasi penting dalam sistem kesehatan nasional. Dengan pendekatan integratif melalui skema ILP, dukungan tenaga kesehatan, kader, serta partisipasi aktif warga menjadi kunci dalam mewujudkan masyarakat yang sehat di setiap tahap kehidupan.
Dea Farawida Aula 